MAJENE, KARABAO.ID – Keberadaan pasar malam atau wahana permainan anak yang dikenal dengan sebutan hoya-hoya di Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, menuai keluhan dari sejumlah warga. Wahana hiburan yang beroperasi di Lapangan Tasinara itu dinilai menimbulkan gangguan keamanan, ketertiban, hingga kenyamanan lingkungan sekitar.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, masyarakat pada dasarnya tidak menolak kehadiran hoya-hoya sebagai sarana hiburan anak-anak maupun sumber penghasilan bagi pedagang dan pengelola wahana, Sabtu 31/1/2026
Namun, ia menekankan perlunya pengaturan yang matang agar aktivitas tersebut tidak menimbulkan dampak negatif,
“Pada prinsipnya kami tidak melarang orang mencari nafkah. Tapi harus ada pengaturan yang jelas supaya tidak mengorbankan keamanan dan kenyamanan warga,” ujarnya.
Warga menyoroti aspek keamanan sebagai persoalan utama. Keramaian di area hoya-hoya disebut kerap memicu keributan. Dalam sepekan terakhir, tercatat dua kali perkelahian dan satu kali percobaan perkelahian di sekitar lokasi. Beruntung, insiden tersebut dapat dicegah oleh warga yang berjaga di pos ronda.
Selain itu, ketiadaan petugas parkir juga menjadi keluhan serius. Banyak pengunjung memarkir kendaraan di bahu jalan poros, terutama saat malam Minggu, sehingga dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan dan memicu kemacetan.
“Kalau ramai, kendaraan parkir sembarangan di jalan poros. Ini sangat berbahaya,” kata warga.
Keluhan lain datang dari kebisingan suara wahana permainan, khususnya sound system rumah hantu yang dianggap terlalu keras dan mengganggu waktu istirahat warga, terutama anak-anak.
Tak hanya itu, penggunaan berbagai wahana di atas Lapangan Tasinara, yang merupakan lapangan sepak bola utama di Kecamatan Malunda, dinilai berpotensi merusak fasilitas umum tersebut.
Warga berharap pihak terkait dapat mencari solusi terbaik, seperti penertiban keamanan, pengelolaan parkir dengan melibatkan tukang parkir resmi, serta pembatasan volume suara pada jam-jam tertentu.
“Wilayah Kecamatan Malunda ini luas. Masih banyak lahan kosong yang tidak dekat pemukiman warga maupun fasilitas umum. Kalau pun di lapangan, yang penting tertib dan aman,” ujar warga lainnya.
Warga juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap dampak psikologis, terutama bagi perempuan dan anak-anak. Keributan yang disertai teriakan kerap membuat ibu-ibu panik dan merasa tidak aman.
“Kondisi seperti ini menimbulkan rasa takut, apalagi bagi perempuan dan anak-anak,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada pemilik wahana hiburan maupun pihak pemerintah setempat terkait keluhan warga tersebut belum membuahkan hasil














Masyarakat mana yang megeluh pak bapak bisa liat kha begituh bayaknya masyarakat datang menikmati
Yang jelas bapak cari makan saja