MAJENE, KARABAO.ID – Sejumlah nelayan di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, menyuarakan kekecewaan terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tidak berpihak pada potensi lokal. Dalam pelaksanaannya, lauk utama yang disajikan dalam program tersebut lebih banyak menggunakan daging ayam ketimbang ikan, padahal Majene dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Sulawesi Barat.
Berdasarkan data tahun 2021, Kabupaten Majene tercatat memiliki 30.887 jiwa nelayan, dari total sekitar 57.318 nelayan di seluruh Provinsi Sulawesi Barat. Angka ini menempatkan Majene sebagai daerah dengan jumlah nelayan terbanyak di provinsi tersebut.
Salah satu pemerhati masyarakat nelayan, Akbar Saudara, menilai kebijakan penggunaan ayam sebagai bahan utama dalam menu MBG tidak selaras dengan potensi lokal yang dimiliki Majene.
“Kekayaan laut kita seharusnya bisa dimanfaatkan dalam program nasional seperti Makan Bergizi Gratis. Ini bukan hanya soal gizi, tapi juga soal keberpihakan terhadap ekonomi masyarakat pesisir,” ujar Akbar, Kamis (13/11).
Menurut Akbar, ikan merupakan sumber protein hewani berkualitas tinggi yang mengandung asam lemak omega-3, vitamin D, kalsium, dan fosfor, yang sangat penting bagi perkembangan otak, kesehatan jantung, dan pertumbuhan tulang anak-anak maupun ibu hamil.
“Ikan sebagai alternatif daging dalam menu MBG menawarkan solusi berbasis lokal yang jelas, sekaligus mendukung kesejahteraan para nelayan,” tambahnya.
Beberapa tokoh nelayan lainnya juga menyuarakan hal serupa. Mereka berharap pemerintah daerah, khususnya Kabupaten Majene, dapat meninjau ulang kebijakan menu dalam program Makan Bergizi Gratis agar lebih berpihak pada potensi lokal dan mendukung perekonomian masyarakat pesisir.













