MAJENE, KARABAO.ID — Antusias masyarakat terhadap pelestarian perahu tradisional sandeq di Sulawesi Barat terus mengalami peningkatan. Hal tersebut ditandai dengan bertambahnya jumlah perahu sandeq yang kini diperkirakan mencapai sekitar 90 unit.
Melihat perkembangan itu, Ketua Aliansi Wartawan Siber (AWS) Sulawesi Barat, Idham, menilai seleksi peserta untuk ajang Sandeq Silumba 2026 sudah perlu diterapkan guna menghadirkan kompetisi yang lebih berkualitas.
Saat dihubungi melalui WhatsApp, Sabtu (16/5/2026), pemerhati dan penggemar perahu sandeq, khususnya komunitas Sandeq Sulbar 99 itu mengatakan, proses seleksi dapat menjadi salah satu langkah untuk memicu masyarakat membuat perahu sandeq yang lebih baik dan kompetitif.
“Saya kira untuk menghasilkan perahu sandeq yang berkualitas, seleksi salah satu caranya,” ujar Idham.
Menurutnya, seleksi tidak hanya berdampak pada kualitas lomba, tetapi juga dapat menambah daya tarik tontonan masyarakat serta memberi pengaruh positif terhadap sektor ekonomi dan kunjungan wisata di daerah.
Mantan Ketua JMSI Sulbar itu juga menyarankan agar proses seleksi dilakukan di perairan Majene melalui sistem lomba segitiga. Pasalnya, sebagian besar perahu sandeq saat ini berasal dari wilayah Majene dan Polewali Mandar, khususnya daerah Campalagian, Pambussuang, dan Karama.
“Kalau memang panitia hanya akan meloloskan 60 perahu sandeq untuk Sandeq Silumba 2026, sementara jumlah perahu sekitar 90 unit, maka seleksi bisa dibuat dalam enam grup. Masing-masing grup diambil 10 terbaik untuk lolos,” jelasnya.
Ia menambahkan, sistem pembagian grup tersebut dapat mengadopsi konsep seperti pembagian grup pada Piala Dunia sepak bola, di mana setiap grup diisi oleh perahu unggulan yang sebelumnya pernah menjuarai etape-etape Sandeq Silumba.
“Perahu-perahu unggulan dimasukkan terlebih dahulu ke tiap grup, sementara peserta lainnya diundi untuk melengkapi grup,” katanya.
Selain menyoroti sistem seleksi, Idham juga meminta para sponsor lebih memperhatikan para sawi atau awak perahu sandeq selama perlombaan berlangsung.
Ia menilai masih ada sponsor yang kurang terlibat langsung di lapangan dan belum memberikan perhatian maksimal kepada peserta, terutama saat para sawi tiba di garis akhir setiap etape.
“Sandeq Silumba 2025 lalu ada sponsor yang menyambut peserta dengan makanan dan minuman, tapi ada juga yang sama sekali tidak memberikan perhatian. Minimal ikut terjun ke lapangan dan siapkan makanan serta minuman untuk para sawi,” harapnya.
Ajang Sandeq Silumba sendiri merupakan salah satu tradisi budaya maritim terbesar di Sulawesi Barat yang rutin menarik perhatian masyarakat dan wisatawan. Selain menjadi perlombaan, kegiatan tersebut juga dianggap sebagai upaya menjaga warisan budaya Mandar agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.













