MAJENE, KARABAO.ID — Aksi balap liar kembali mewarnai suasana Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah di Desa Ulidang, Kecamatan Tammerodo Sendana, Kabupaten Majene, Selasa (27/5/2026). Kegiatan adu kecepatan sepeda motor yang dilakukan sejumlah remaja dan pemuda itu bahkan sempat memicu cekcok antar kelompok di lokasi.
Balap liar tersebut berlangsung di ruas jalan poros desa yang dikenal memiliki lintasan lurus dan cukup panjang. Lokasi itu kerap dijadikan arena balapan dadakan setiap momentum hari besar keagamaan, baik Idulfitri maupun Iduladha.
Menurut keterangan warga, kerumunan penonton dan suara bising knalpot mulai memadati area sejak sore hari. Situasi kemudian memanas setelah terjadi adu mulut antar sejumlah pemuda yang diduga dipicu persoalan saat balapan berlangsung.
Ketegangan sempat membuat suasana di sekitar lokasi menjadi ricuh dan menyebabkan arus lalu lintas terganggu. Pengendara yang melintas di jalur poros Ulidang terpaksa memperlambat kendaraan akibat banyaknya warga yang memadati badan jalan.
Beruntung, insiden tersebut tidak berlangsung lama. Hujan yang turun di kawasan itu membuat massa perlahan membubarkan diri sehingga situasi kembali kondusif.
Warga sekitar berharap aparat kepolisian dapat meningkatkan pengawasan dan patroli, khususnya pada momentum hari raya yang kerap dimanfaatkan sebagian pemuda untuk melakukan balap liar.
“Kalau dibiarkan terus tentu berbahaya, apalagi ini jalan umum yang dipakai masyarakat. Takutnya bisa terjadi kecelakaan,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Aktivitas balap liar dinilai tidak hanya mengganggu ketertiban umum, tetapi juga membahayakan keselamatan pengguna jalan lain maupun para pelaku sendiri. Selain memicu kemacetan, aksi tersebut rawan menyebabkan kecelakaan lalu lintas.
Sementara itu, salah seorang petugas kepolisian yang bertugas di wilayah tersebut mengaku langsung menuju lokasi setelah menerima informasi dari masyarakat terkait adanya keramaian dan balap liar di Ulidang.
Pihak kepolisian diharapkan dapat melakukan langkah antisipatif guna mencegah kejadian serupa terulang, terutama pada momen perayaan hari besar keagamaan yang biasanya dipadati aktivitas masyarakat.













