Dengan keberanian tersisa, ia berusaha menahan pintu agar tidak bisa dibuka, demonstran yang mencoba untuk masuk. Sangking panik dan ketakutan ia kesulitan mengunci apalagi disamping pintu ada beberapa jendela model nako retro yang terbuka sehingga tangan demonstran nampak masuk melalui celah jendela. Suasana jelas mencekam, teriakan demonstran membuat seisi ruangan aula ikut histeris. ” kayak di film film zombie, yang mengejar dari luar” Ucapnya.
JA mengaku ditunjuk tunjuk disertai teriakan oleh Demonstran apalagi korban JA dapat dikenali dengan jelas oleh Demonstran karena saat hari pertama JA posisinya paling depan dan menghalau / mendorong ban yang dibakar.
Beruntung kejadian tersebut tidak lama, karena pihak kampus dan kepolisian tiba di aula dan mengevakuasi mahasiswi ketakutan.
Pasca pemukulan dan pelecehan seksual yang ia dialami JA mengaku masih trauma berat. Ia takut bertemu laki laki, termasuk saat mendengar suara berisik dan teriak teriak. JA juga mengaku sulit tidur setiap malam, sehingga membuat kesehatannya terganggu. Sering cemas dan berkeringat dingin di tangan.
Sementara untuk trauma fisik, masih dialami hingga saat ini. Mulai dari Sakit kepala ” nyut nyut ” dan perih di area dada.
“Harapanku, pihak kepolisian segera menangkap pelaku, sampai pakai baju orange kan,” ucapnya.













