MAJENE  

Fakta Harga Durian di Malunda Dipengaruhi Ukuran, Jenis, dan Biaya Distribusi

MAJENE, KARABAO.ID – Awal tahun 2026, durian lokal di Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat, tengah memasuki masa panen raya. Meski pasokan melimpah, harga durian di pasaran tetap bervariasi cukup tajam, berkisar antara Rp10.000 hingga Rp35.000 per buah pada Jumat, 9 Januari 2026.

Perbedaan harga tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya ukuran, jenis, dan kualitas durian. Durian lokal Malunda dikenal memiliki keragaman jenis yang jauh berbeda dibanding durian impor seperti Montong atau Musang King yang umumnya dijual berdasarkan berat timbangan.

Baca Juga  Pelajar di Majene Laporkan Dugaan Penipuan, Sebut Merugi dan Butuh Keadilan

Setiap jenis durian lokal memiliki ciri khas masing-masing, mulai dari nama, bentuk buah, rasa, hingga warna kulit. Ada durian berbentuk lonjong, bulat, hingga gepeng. Keragaman inilah yang membuat harga durian di Malunda sangat bervariasi, dari yang terjangkau hingga bernilai lebih tinggi.

Beberapa jenis durian lokal yang populer di Malunda antara lain takumbang-kumbang, yang dikenal memiliki daging tebal, serta takampis-kampis, yang cirinya biji kempis. Selain itu, terdapat ratusan nama dan sebutan durian lokal lainnya, masing-masing dengan karakteristik yang berbeda.

Meski sedang musim panen, tingginya biaya distribusi menjadi salah satu faktor utama yang membuat harga durian tetap relatif mahal. Sebagian besar durian berasal dari tiga desa di wilayah pegunungan Malunda, yakni Desa Lombang, Lombang Timur, dan Salutahongan, yang memiliki jalur distribusi ekstrem dan sulit dijangkau kendaraan.

Baca Juga  Disdikpora Majene Gelar Pelatihan Literasi dan Numerasi Digital bagi Guru Tahun 2025

Biaya angkut menggunakan ojek dari desa-desa tersebut mencapai sekitar Rp1.500 per buah. Dalam sekali perjalanan, pedagang harus mengeluarkan biaya antara Rp150.000 hingga Rp200.000, tergantung jumlah durian yang dibawa.Seorang pedagang durian di Malunda mengungkapkan bahwa mahalnya biaya transportasi dan risiko medan menjadi alasan perbedaan harga di pasaran.

Baca Juga  Bupati Majene Minta Wartawan Awasi Ketat MBG, Ancam Tutup Dapur Tak Bersertifikat SLHS

“Kenapa durian mahal? Sewa ojeknya mahal. Belum lagi risikonya melewati jalan curam, jadi harga pasti berbeda-beda,” ujarnya.

Selain biaya distribusi, proses pematangan durian yang tidak serentak juga memengaruhi stabilitas harga. Akibatnya, meskipun pasokan melimpah, harga durian di Malunda tetap fluktuatif.

Dengan berbagai faktor tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam memilih durian dan memahami alasan di balik perbedaan harga. Durian Malunda, meski berlimpah, tetap menjadi komoditas bernilai yang harganya sangat bergantung pada kualitas dan biaya distribusi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *