MAJENE, MALUNDA, KARABAO.ID – Ironi terjadi di wilayah pesisir Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Harga ikan di Pasar Malunda justru melambung tinggi dan melampaui harga daging ayam, memicu keluhan warga yang selama ini menggantungkan kebutuhan konsumsi protein dari hasil laut.
Pantauan di Pasar Malunda pada Senin (9/2/2026) menunjukkan sejumlah komoditas ikan dijual dengan harga tinggi. Ikan bolaliah tercatat menembus Rp60 ribu per kilogram, sementara ikan tapilalang atau baby tongkol berada di kisaran Rp50 ribu per kilogram, setara dengan harga ikan bandeng.
Udang pun ikut mahal dengan harga mencapai Rp60 ribu per kilogram.Kondisi ini berbanding terbalik dengan harga daging ayam yang relatif lebih terjangkau. Di pasar, ayam dijual sekitar Rp75 ribu untuk dua kilogram, sehingga menjadi alternatif protein yang kini lebih dipilih masyarakat.
Lonjakan harga ikan disebabkan oleh cuaca buruk yang melanda wilayah pesisir Malunda dalam beberapa pekan terakhir. Gelombang tinggi dan angin kencang membuat nelayan tidak dapat melaut, sehingga pasokan ikan ke pasar menurun drastis.
“Sekarang ikan susah didapat. Minggu lalu sempat turun sampai Rp40 ribu per kilogram, tapi naik lagi karena stok kosong,” ujar Amir, salah seorang pedagang ikan di Pasar Malunda.
Pedagang dan warga memperkirakan harga ikan masih akan bertahan tinggi hingga memasuki bulan Ramadan, mengingat kondisi cuaca belum menunjukkan tanda-tanda membaik dan aktivitas melaut nelayan masih terbatas.
Situasi ini menjadi pukulan ganda bagi masyarakat pesisir. Nelayan kehilangan penghasilan akibat tidak bisa melaut, sementara warga harus membeli ikan dengan harga yang kian mahal untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Warga berharap kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan instansi terkait. Sebagai wilayah pesisir, Malunda seharusnya memiliki akses ikan yang lebih mudah dan terjangkau.
Pemerintah dinilai perlu mengambil langkah antisipatif, mulai dari penguatan distribusi ikan dari daerah lain, stabilisasi pasokan, hingga perlindungan bagi nelayan dan konsumen, terutama menjelang Ramadan yang identik dengan meningkatnya kebutuhan bahan pangan.
Ironisnya, di negeri pesisir seperti Malunda, ikan justru berubah menjadi komoditas mahal, memaksa masyarakat beralih ke sumber protein lain yang lebih terjangkau.













