SPPG Lembang Majene Bantah Isu Relawan dari Luar Daerah, Tegaskan Mayoritas Pekerja Warga Lokal

MAJENE, KARABAO.IDSatuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lembang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, memberikan klarifikasi terkait isu yang berkembang mengenai tenaga relawan pada dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pihak pengelola menegaskan bahwa informasi yang menyebut mayoritas relawan berasal dari luar daerah tidak benar dan tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Sebaliknya, sebagian besar tenaga kerja yang terlibat dalam operasional dapur MBG merupakan warga lokal Kabupaten Majene, khususnya masyarakat di sekitar Kecamatan Banggae Timur.

Kepala SPPG Lembang, M. Nasrul Saifullah, mengatakan program dapur MBG sejak awal tidak hanya difokuskan pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi bagi warga sekitar.

“Mayoritas relawan dan pekerja harian kami adalah masyarakat lokal Majene. Mereka terlibat langsung mulai dari proses persiapan bahan makanan, pengolahan, pemorsian, distribusi hingga menjaga kebersihan dapur,” ujar Nasrul saat memberikan keterangan, Kamis 7/5/2026

Baca Juga  Heboh Buaya Masuk Sungai Dekat Permukiman Warga di Malunda

Ia menjelaskan, dari puluhan relawan yang aktif bekerja setiap hari, hanya beberapa orang yang berasal dari luar daerah. Mereka bertugas sebagai tenaga ahli atau chef yang memiliki pengalaman khusus dalam pengelolaan dapur skala besar.

Menurutnya, kehadiran tenaga ahli tersebut bertujuan membantu menjaga standar kualitas makanan, higienitas, serta manajemen operasional dapur agar tetap sesuai prosedur.

“Tenaga dari luar hanya pada bidang tertentu yang membutuhkan keahlian khusus. Sementara untuk relawan dan pekerja operasional sehari-hari, sebagian besar adalah warga Majene sendiri,” jelasnya.

Baca Juga  Kisah Rifal, Manusia Silver yang Kerap Dijumpai di Lampu Merah Majene, Segini Penghasilannya

Nasrul juga menyayangkan munculnya informasi yang dinilai tidak utuh tanpa adanya konfirmasi langsung kepada pihak pengelola dapur MBG. Ia menilai penyebaran informasi yang tidak terverifikasi berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Selain itu, kata dia, isu tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi semangat para relawan lokal yang selama ini bekerja dengan penuh tanggung jawab demi mendukung keberlangsungan program.

“Program ini juga membuka ruang produktif bagi masyarakat, termasuk ibu rumah tangga di sekitar lokasi dapur. Jadi kami berharap masyarakat bisa melihat manfaat program ini secara objektif,” katanya.

SPPG Lembang menegaskan bahwa pelayanan kepada para penerima manfaat tetap menjadi prioritas utama. Seluruh proses pengolahan makanan dilakukan dengan pengawasan ketat untuk memastikan makanan yang didistribusikan memenuhi standar kebersihan, keamanan pangan, dan nilai gizi yang layak.

Baca Juga  Miris, Sepasang Lansia di Pamboang Hidup di Rumah Hampir Roboh Luput dari Bantuan

Program Makan Bergizi Gratis sendiri menjadi salah satu program yang mendapat perhatian luas dari masyarakat karena dinilai memberikan dampak langsung terhadap kesehatan dan kesejahteraan penerima manfaat. Di Kabupaten Majene, pelaksanaan program tersebut juga dinilai mampu mendorong keterlibatan masyarakat lokal dalam aktivitas sosial dan ekonomi.

Pihak SPPG berharap masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan lebih mengedepankan klarifikasi langsung agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat merugikan berbagai pihak.

Dengan dominasi keterlibatan warga lokal dalam operasional dapur MBG, SPPG Lembang menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pemberdayaan masyarakat sekaligus menyukseskan program pemenuhan gizi di Kabupaten Majene.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *