OPINI  

Mendukung “Taki Maqbasa Mamuju”: Dari Jargon Pemerintah Menjadi Gerakan Hidup Masyarakat

Oleh: Muhammad Yusuf, SH, MH

Peluncuran buku Bahasa Mamuju yang di laksanakan di Ball Room Maleo Hotel Mamuju Kamis 29 Januari 2026. Program ini adalah langkah awal Pemerintah Daerah Mamuju yang patut diapresiasi. Program “Taki Maqbasa Mamuju” (Ayo Berbahasa Mamuju) hadir dengan semangat yang kuat: membangkitkan dan membentengi identitas kultural Suku Mandar di pesisir Sulawesi Barat. Namun, sebagaimana banyak inisiatif serupa, ia menghadapi tantangan besar agar tidak sekadar menjadi “jargon birokrasi” yang ramai di baliho dan seremoni, tetapi sepi dalam praktik nyata. Untuk itu, dukungan segenap warga Mamuju bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

Secara kritis, kita harus menyadari beberapa hal. Pertama, ada risiko di mana semangat “Taki” (ajakan bersama) hanya menjadi label program pemerintah yang silih berganti, tanpa implementasi mendalam. Bahasa adalah praktik hidup, bukan slogan. Jika “Taki Maqbasa Mamuju” hanya dikumandangkan di acara resmi, sementara ruang publik, sekolah, dan rumah tangga tetap didominasi bahasa Indonesia atau campuran, maka esensi pelestarian ini akan menguap. Bahasa perlu dihidupkan, bukan hanya diumumkan.

Kedua, tantangan internal berupa keberagaman dialek dalam Bahasa Mamuju itu sendiri, seperti Sumare-Rangas, Padang, dan Sinyonyoi. Program pelestarian sering kali tanpa sadar menciptakan hegemoni, di mana dialek pusat kota menjadi standar “resmi” dan meminggirkan variasi lainnya. Agar seluruh warga merasa memiliki (sense of belonging), gerakan ini harus inklusif. Bukan menyeragamkan, tetapi merayakan keragaman dialek sebagai kekayaan yang memperkaya identitas bersama.

Baca Juga  UMKM Sejahterakan Rakyat, Yang Terjadi Trickle Down Effect , Ironi!

Ketiga, dan ini yang paling menentukan masa depan, adalah relevansi di era digital. Mengajak generasi muda untuk “Maqbasa Mamuju” di tengah gempuran bahasa gaul nasional dan global adalah pertaruhan. Kampanye akan gagal jika penyampaiannya kaku dan instruktif. Bahasa Mamuju harus dibawa ke ruang yang akrab bagi generasi muda: media sosial, konten kreatif, musik, dan platform digital. Ia harus tampil “keren” dan fungsional, bukan sekadar materi muatan lokal yang kaku di sekolah.

Oleh karena itu, dukungan masyarakat Mamuju harus mewujud dalam tindakan nyata yang mengisi “ruang kosong” antara kebijakan dan implementasi. Inisiatif pemerintah perlu disambut dengan inisiatif kreatif dari bawah. Beberapa langkah strategis yang bisa menjadi perhatian bersama antara lain:

Baca Juga  Valentine’s Day Love or Lust?
  1. Membawa Bahasa ke Ruang Digital: Masyarakat, khususnya anak muda, dapat menjadi konten kreator. Membuat video pendek, podcast, meme, atau lagu berbahasa Mamuju dengan dialek masing-masing. Lomba dubbing film kartun atau stand-up comedy berbahasa Mamuju di media sosial bisa menjadi daya tarik besar.
  2. Menciptakan Ruang Praktek di Rumah dan Komunitas: Dukungan paling fundamental dimulai dari keluarga. Orang tua perlu dengan sengaja menciptakan momen “Maqbasa” di rumah, sekadar dalam percakapan santai. Komunitas dan karang taruna bisa mengadakan kegiatan diskusi atau pertunjukan seni dengan menggunakan bahasa daerah.
  3. Mendorong Adopsi dalam Pelayanan Publik dan Usaha Lokal: Masyarakat dapat mendorong dan mengapresiasi penggunaan bahasa Mamuju di kantor pelayanan publik, puskesmas, atau pasar. Para pelaku usaha, dari warung kopi hingga toko modern, bisa menggunakan nama dan istilah Mamuju, menciptakan lingkungan linguistik yang mendukung.
  4. Mendukung Pendidikan yang Aplikatif dan Menyenangkan: Dukungan orang tua terhadap program “Senin Maqbasa” atau “Kamus Gaul Saku” di sekolah sangat vital. Bahasa harus dipelajari dengan gembira, melalui permainan, kuis interaktif, atau mural seni di sekolah, bukan dengan paksaan dan hafalan.
  5. Menjadi Penjaga dan Penyeimbang Dialek: Masyarakat di setiap wilayah harus bangga menggunakan dialeknya masing-masing dalam kampanye ini. Ini akan mencegah pemusatan pada satu dialek dan justru memperkaya khazanah bahasa Mamuju itu sendiri.
Baca Juga  Opini: Suara Adzan Diatur, Syiar Islam Dikekang

Kesimpulannya, “Taki Maqbasa Mamuju” hanya akan bermakna jika ia berhasil berpindah dari ruang rapat pemerintah ke ruang tamu keluarga, dari podium seremonial ke layar ponsel anak muda, dan dari buku pedoman menjadi percakapan harian di warung kopi. Program ini bukan hanya tanggung jawab Dinas Pendidikan atau Kebudayaan, melainkan tanggung jawab kolektif setiap warga yang mencintai tanah dan budayanya.

Mari kita dukung dengan kritis dan kreatif. Arahkan semangat kita agar program ini tidak berhenti pada peluncuran buku, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial yang hidup. Fokusnya harus menyeluruh: menyasar sekolah dasar untuk membangun pondasi, sekaligus membombardir ruang publik umum dengan kreasi yang relevan. Dengan demikian, “Taki Maqbasa Mamuju” akan benar-benar menjadi kebanggaan bersama: Keren Bahasanya, Bangga Budayanya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *