OPINI  

Muslim Tionghoa Rayakan Imlek?

Oleh: Jajat Munadjat

Imlek merupakan tahun baru China dalam sistem penanggalan kalender Tionghoa yang dirayakan secara massif diseluruh dunia, mulai dari tanah leluhurnya di dataran Tiongkok sampai ke Amerika, Eropa hingga Asia termasuk Taiwan, Thailand, Singapore hingga di Indonesia, dan sejumlah negara lainnya, yang tahun ini adalah tahun 2577 Kongzili bertepatan dengan hari Selasa tanggal 17 Februari 2026 M, dengan shio Kuda Api, dan maknanya adalah membawa perubahan dan semangat baru;

Perayaan Imlek merupakan tradisi dan budaya yang diwariskan secara turun temurun oleh leluhur Tionghoa sejak ribuan tahun sebelum masehi, sebagai penanda berakhirnya musim dingin akan memasuki musim semi yang biasanya dimulainya masa bercocok tanam dengan diiringi fenoma alam yang mendukung yakni turunnya hujan, dan diyakini akan membawa keberkahan, karenanya mereka merayakannya dalam bentuk kegembiraan dengan ekspresif, seperti pesta rakyat, semarak lampion, festifal barongsai, lomba perahu naga, makan bersama dengan keluarga dan kerabat, belanja kebutuhan rumahtangga, bagi-bagi ampao berwarna merah, dan seterusnya;

Selain tradisi dan budaya yang terpentaskan ditengah-tengah etnis dan masyarakat Tionghoa, juga hadir ritual keagamaan yang mewarnai kemarakan perayaan tersebut, sebutlah misalnya agama leluhur di dataran Tiongkok yaitu “Konghucu, Tao, dan Budha” yang sudah ada sejak masa Sebelum Masehi (SM), menyusul “Nasrani” (orthodox, katolik, dan protestan) yang hadir pada abad I Masehi, berikut “Islam” yang mulai menyebar pada abad VII Masehi yang pertamakali diprakarsai oleh sahabat Rasulullah yang diutus khusus oleh Khalifah Utsman bin Affan sebanyak 15 orang dipimpin Saad bin Abi Waqqas sejak tahun 616 M kemudian pada tahun 637 M kembali lagi ke China dan menetap hingga akhir hayatnya dalam usia 80 tahun di Guangzhou atau Kanton yang saat ini adalah ibukota Provinsi Guangdong di Tiongkok bagian Selatan, makamnya ada di kompleks Masjid Agung Guangzhou dan bisa berziarah ke sana jika traveling ke Tiongkok;

Baca Juga  UMKM Sejahterakan Rakyat, Yang Terjadi Trickle Down Effect , Ironi!

Selain utusan khusus tersebut juga penyebaran Islam dibawa oleh sejumlah pedagang dan saudagar muslim yang turut memberi andil penyebaran Islam di bumi tirai bambu melalui jalur sutra atau misi dagang antar bangsa-bangsa di dunia;
Ajaran agama Konghucu berasal dari ajaran filsafat dan etika oleh Kong Fu Tze yang awalnya dikenal sebagai Konfusianisme, dan ajaran ini dimulai dari Fuxi (tahun 2952 SM) kemudian dikembangkan dan diperbaharui oleh Kongzi atau Konghucu yang lahir tahun 551 SM, inti ajarannya mengandung unsur pembentukan akhlak yang mulia, ajaran ini menjadi resmi diakui sebagai agama formal pada saat Dinasti Han berkuasa (206 SM-220 M), kemudian berkembang ke Jepang, Korea, dan ke seluruh dunia hingga saat ini;

Baca Juga  Mengembalikan Peran Santri yang Sesungguhnya Lewat Dakwah Ideologis

Sementara kepercayaan Tao juga beraliran filsafat yang banyak bersentuhan dengan alam yang dipelopori oleh Lao Tzu pada abad ke-6 SM dengan nama ajaran Taoisme yang dikembangkan oleh Chung Tzu, dan tokoh yang berpengaruh besar selanjutnya adalah Ge Hong;

Sedangkan agama Budha yang didasarkan pada ajaran Siddhartha Gautama yang dikenal sebagai Buddha, ajaran ini lahir ditengah-tengah Masyarakat India Kuno, kemudian menyebar keseluruh Asia termasuk di Tiongkok yang dibawa oleh bhiksu Fa Hsien sekira ratusan tahun SM; Dalam perkembangannya ketiga ajaran agama dan kepercayaan ini oleh sebahagian masyarakat Tiongkok ada yang menggabungkan menjadi suatu pengamalan ajaran dan kepercayaan yang disebut dengan “Tridharma” atau “Sam Kauw” dalam bahasa Hokkian, yakni sebuah kepercayaan yang didasari pada sinkretisme pemikirin Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme;

Ajaran ini cukup massif dikalangan Masyarakat Tionghoa dan mempengaruhi kebudayaan Tionghoa sejak 2500-an tahun yang lalu hingga saat ini, makanya perayaan imlek bagi mereka tidak terlepas dari akulturasi budaya, kepercayaan, dan agama yang dianut, sehingga ramailah tempat-tempat ibadah seperti Vihara dan Klenten pada hari Imlek hingga Cap Go Meh yakni 15 hari setelah Imlek;

Kalau Masyarakat Tionghoa yang beragama Nasrani tentu tetap merayakannya dengan menyesuaikan ajaran agama yang diyakininya, sedang Masyarakat Tionghoa yang beragama Islam akan memisahkan antara perayaan budaya leluhur dengan pelaksanaan ritual keagamaan yang Islami, artinya perayaan Imlek tetap mereka rayakan namun tidak ada Ibadah atau ritual keagamaan secara khusus yang berkaitan dengan perayaan budaya Imlek dan Cap Go Meh, kecuali yang sifatnya Muamalah;

Baca Juga  Opini: UU IKN Disahkan, Bukti Pemerintah Tidak Peduli Pada Rakyat?

Saat ini muslim di Tiongkok berkisar 2-3 persen dari populasi penduduk China sebesar 1,4 Milyar lebih, artinya sekira 30 juta orang yang beragama Islam yang tersebar di beberapa provinsi, kota, dan desa, antara lain di Xinjiang, Ningxia, Gansu (Guangzhou), Qinghai, dan Henan; Adapun etnis yang dominan memeluk agama Islam adalah suku Hui, menyusul Uighur, kemudian Kazak, Dongxiang, Kirgiz, Tajik, Uzbek, Tatar, dan seterusnya; Merekapun tetap merayakan Imlek dengan aktifitas yang menonjol adalah silaturrahim, saling mengunjungi, makan bersama, bersedeqah, melangsungkan nikahan, dan sebagainya;

Itulah sekilas tentang Imlek yang dimaknai sebagai perayaan budaya leluhur Tionghoa, ada yang memadukan dengan ritual keagamaan seperti Kongfucu, Tao, dan Budha, sementara Nasrani dan Islam memisahkannya sebagai Ibadah atau ritual keagamaan secara khusus, namun mereka melaksanakannya dalam bentuk muamalah, social, dan kemasyarakatan yang adaptif;

Makassar, 17 Februari 2026
Jajat MM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *