MAJENE, KARABAO.ID – Sejumlah kejanggalan mengemuka terkait penemuan jenazah Wiwin, warga Gowa asal Makassar, yang hilang pada Sabtu malam, 28 November, dan ditemukan pada Senin pagi, 1 Desember, di perairan Sangiang, Desa Onang, Kecamatan Tubo Sendana, Majene. Warga mempertanyakan sejumlah fakta di lapangan dan menduga adanya kemungkinan peristiwa yang tidak wajar.
Saat ditemukan, jasad Wiwin sudah menunjukkan tanda pembusukan cukup lanjut dan terdapat ulat, meski baru sekitar tiga hari dinyatakan hilang. Warga menilai kondisi tersebut tidak lazim, mengingat pembusukan di laut asin biasanya lebih lambat. Selain itu, warga menyebut adanya dugaan luka di bagian kaki dan kepala korban, meski belum terkonfirmasi secara medis.
Hingga kini tidak ada saksi mata yang melihat langsung Wiwin menuju laut. Informasi yang beredar di masyarakat dikabarkan bersumber dari keterangan sopir bantu rombongan, Refki, sehingga memunculkan beragam spekulasi.
Terdapat Perbedaan antara Hasil Pencarian dan Temuan Jenazah, Pada Jumat malam, warga bersama aparat kepolisian telah melakukan penyisiran di lokasi dugaan hilangnya korban, namun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Wiwin. Dua hari setelahnya, jenazah justru ditemukan di lokasi yang sama, menimbulkan tanda tanya di kalangan warga.
Refki, sopir bantu yang turut dalam rombongan, disebut meninggalkan lokasi sekitar empat jam setelah pencarian dimulai dan bermalam di sebuah warung di daerah Somba. Keputusan tersebut mengundang perhatian warga karena dinilai tak lazim dalam situasi pencarian orang hilang.
Warga juga menemukan sobekan pakaian yang diduga milik korban tersangkut pada ranting kayu di bibir pantai. Posisi temuan itu dianggap janggal dan memunculkan dugaan adanya unsur yang disengaja.
Pihak keluarga menjelaskan alasan tidak melakukan autopsi terhadap jenazah Wiwin. Selain pertimbangan agar korban segera dimakamkan, keluarga mengaku terkendala biaya.
“Kita memang tidak otopsi karena terkendala biaya. Kemarin saja bayar ambulans sudah memakan jutaan. Keluarga memang tidak punya apa-apa. Untuk biaya ambulans saja, Alhamdulillah warga inisiatif menggalang dana, jadi akhirnya bisa dibayar,” ujar salah satu anggota keluarga.
Keluarga berharap masyarakat tidak memperkeruh keadaan dan menyerahkan proses selanjutnya kepada pihak berwenang.













