Oleh Nida Fitri Azizah (Aktivis Mahasiswa)
Anak nelayan menambat perahu,
Ombak datang tak terduga arah.
Sekularisme longgarkan perilaku,
Pemuda pun terseret tanpa penjaga yang benar meluruhkan marah.
Pantun Bullying tersebut menggambarkan begitulah kondisi para pemuda hari ini yang mudah terseret arus nilai-nilai bebas tanpa pendampingan yang tepat untuk menenangkan hati dan meluruskan perilaku.
Mirisnya Pemuda zaman ini tampil bringas dan mudah tersulut emosi, sampai muncul sebuah slogan “Berani senggol mandi darah” sedikit saja pemicu dapat berubah menjadi ledakan kemarahan yang sulit dikendalikan. Fenomena ini bukan sekadar persoalan karakter individu, tetapi mencerminkan tekanan besar yang mereka hadapi di tengah arus kehidupan modern mulai dari tuntutan akademik, persaingan sosial, hingga paparan konten digital yang penuh kekerasan dan provokasi.Sebut saja 5 Kasus Bullying yang sempat Viral dijagad social media diantaranya Pengeroyokan saat MPLS SMP di Blitar, disusul dengan berita miris Santri Lombok Tengah Tewas setelah saling Bully, kemudian dugaan Bullying Timothy Anugerah di Universitas Udayana, dugaan Bullying di SMPN 19 Tangerang Selatan serta Bullying di kamar mandi SMP Blora Jawa Tengah.(Kaleidoskop Beautynesia 24 Nov 2025)
Berangkat dari hal itulah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan menyiapkan kampanye anti-bullying melalui kegiatan Jalan Pagi Bersama yang digelar pada 29 November 2025. Dengan sebuah tema besar yang diangkat yakni Teman adalah Sahabat, program ini bertujuan merangkul siswa dalam membangun iklim pertemanan yang kondusif dan jauh dari perundungan.(inibalikpapan.com 25 Nov 2025).
Bullying sejatinya adalah kejahatan, dan meningkatnya kasus di kalangan generasi muda bukan hanya tanda buruknya relasi sosial, tetapi bukti bahwa mereka hidup dalam sistem sekuler yang merusak cara pandang hingga perilaku; sebuah sistem yang menanamkan kebebasan tanpa batas sehingga ketika konflik terjadi, mereka menyelesaikannya menurut hawa nafsu semata dari menghina, memukul, hingga menghilangkan nyawa tanpa lagi menimbang nilai halal dan haram.
Lalu, apakah bullying yang berakar dari rusaknya system kehidupan akibat sekulerisme ini benar-benar bisa diselesaikan hanya dengan spanduk, slogan, dan kampanye anti-bullying semata?
Di Balik Layar Digital: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Rusaknya Mental Generasi?
Generasi yang niradab dan miskin akidah itu lahir dari Rahim Pendidikan sekuler yang bernafaskan kebebasan.Hal ini dibuktikan dengan dipisahkannya nilai moral dan agama dari tujuan utama pendidikan, bagi mereka prestasi akademik, kebebasan berekspresi, dan pencapaian individu adalah segalanya.
Akibatnya, peserta didik tumbuh dengan pola pikir bahwa kebebasan adalah hak mutlak tanpa berlandaskan standar , halal haram. Dalam banyak kasus bullying, pelaku merasa bangga jika menghina, merendahkan, bahkan menyakiti karena tidak memiliki rem moral yang kuat dalam dirinya yang penting adalah kepuasan diri, pengakuan teman, atau pelampiasan emosi.Dalam kurikulum sekuler penanaman akidah tidak dijadikan dasar dalam membentuk kepribadian anak. Dunia hiburan,tontonan dan social media menjadi Guru kedua generasi saat ini yang tanpa disadari mendidik mental generasi dengan nilai kebebasan tanpa batas. Sebut saja film carie yang menampilkan Bullying ekstrem di sekolah yang berujung balas dendam berdarah.Lalu Di Balik Layar Digital, pantaslah kita bertanya Siapakah yang Bertanggung Jawab atas Rusaknya Mental Generasi?. Ya Negara seharusnya bertanggung jawab atas dosa besar yang terjadi dalam dunia Pendidikan era ini.
Sekularisme telah mendarah daging dalam 3 pilar ruang hidup tempat generasi tumbuh.
Pertama, keluarga sebagai pendidikan pertama bagi anak-anak. Banyak orang tua yang lalai menanamkan keimanan dan ketaatan kepada Allah Taala. Akibatnya, anak tidak memiliki contoh dan keteladanan sikap yang baik kepada sesama dan orang lain. Lihat saja kondisi generasi kita yang sangat jauh dari adab mulia. Sekularisme juga telah menjauhkan mereka dari fondasi dan aturan Islam.
Generasi tumbuh dengan nilai-nilai sekuler yang hanya mementingkan materi. Kehidupan liberal dan hedonistik menjadi kiblat mereka dalam berperilaku.
Kedua, Lingkungan merupakan ruang paling kuat dalam membentuk pola pikir dan perilaku generasi, dan sayangnya lingkungan hari ini banyak dibangun di atas nilai-nilai sekuler yang menjauhkan manusia dari tuntunan moral. Sesuatu yang awalnya baik pun perlahan dapat berubah buruk karena kuatnya pengaruh pergaulan sekitar. Budaya saling menasihati dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran kian memudar, tergantikan oleh sikap individualis, egois, dan apatis—sebuah karakter masyarakat yang tumbuh subur dalam sistem sekuler kapitalistik.
Ketiga, negara belum berperan secara optimal dalam menjaga generasi dari kerusakan yang dapat kita lihat dari tiga indikator. Yang Pertama, mandulnya perangkat hukum. Sudah banyak produk hukum yang diregulasi dalam rangka mencegah dan menangani kasus bullying, seperti UU Perlindungan Anak. Namun, perangkat hukum ini seperti tidak mempan mencegah bullying yang terus berulang.
Yang Kedua, kurikulum pendidikan yang berjalan saat ini masih menghadapi tantangan besar dalam membentuk generasi yang saleh dan salehah. Orientasi sekolah sering kali lebih menekankan pada capaian akademik, sementara penguatan nilai spiritual belum mendapatkan porsi yang seimbang. Meskipun banyak sekolah berbasis agama telah berdiri, arus nilai sekuler yang begitu kuat di lingkungan sosial dan media membuat upaya pembinaan akhlak menjadi tidak mudah.
Akibatnya, sebagian generasi tumbuh cerdas secara intelektual, tetapi masih rapuh dalam jati diri dan karakter.
Ketiga, tantangan juga datang dari begitu derasnya tontonan yang kurang mendidik di berbagai platform digital. Media sosial, film, dan tayangan visual kerap menyuguhkan konten bertema konflik, persaingan, dan gaya hidup bebas yang dikemas menarik bagi remaja. Tanpa pendampingan yang cukup, tontonan perlahan bisa berubah menjadi tuntunan.
Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting, sebab penggunaan gawai yang tidak terkontrol berisiko membuat anak-anak terpapar informasi yang belum sesuai dengan usia dan kedewasaan mereka.
Ketiga indikator tersebut semestinya perlu berjalan beriringan dan saling menguatkan, dan keharmonisan ini akan lebih mudah terwujud ketika negara hadir menjalankan fungsinya secara optimal. Sejarah pun mencatat bahwa ketika nilai-nilai Islam diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, tata kehidupan menjadi lebih terarah, serta mampu melahirkan individu dan komunitas yang menjunjung tinggi akhlak dan keluhuran budi.
Saat Pendidikan Islam Menjadi Fondasi: Lahirnya Generasi Emas Berkepribadian Islam
Sistem pendidikan Islam yang ditopang oleh keseluruhan sistem kehidupan Islam telah terbukti mampu melahirkan generasi bersyakhshiyah Islam b,berkepribadian kokoh, berilmu tinggi, dan siap menjadi generasi emas sebagaimana telah dicatat oleh kegemilangan peradaban Islam di masa lalu. Islam tidak sekedar tampil dalam pencegahan bullying, namun menghadirkan sistem perlindungan yang nyata dan menyeluruh.
Negara berperan sebagai perisai terdepan dengan menjadikan akidah Islam sebagai asas kurikulum pendidikan. Penyemaian iman sejak dini menjadi benteng utama, bagi mereka besar kecintaanya kepada Allah Swt sama dengan besarnya ketakutan mereka terhadap kemaksiatan.
Negara juga wajib membersihkan seluruh media dari konten kekerasan, pelecehan, dan kemaksiatan, serta menutup rapat segala akses yang merusak tujuan pendidikan.
Di sisi lain, masyarakat dan sekolah berfungsi sebagai pengawas sosial melalui amar makruf nahi mungkar yang konsisten dilakukan,. Sekolah tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga pembentukan kepribadian Islam. Guru tidak dibebani persoalan ekonomi karena dijamin kesejahteraannya oleh negara, sehingga dapat fokus mendidik dengan optimal, sebagaimana yang pernah terjadi dalam peradaban Islam. Sementara itu, keluarga menjalankan peran strategis sebagai madrasah pertama bagi anak.
Negara menjamin pendidikan gratis dan membuka lapangan kerja bagi para kepala keluarga, sehingga ibu dapat fokus menjalankan perannya sebagai pendidik utama generasi tanpa tekanan ekonomi.
Jika semua kebutuhan dasar terpenuhi dan peran keluarga, sekolah, serta negara berjalan harmonis, maka tidak akan lahir generasi gagal. Inilah keunggulan sistem Islam yang bekerja secara struktural, bukan tambal sulam.
Dalam aspek penanganan, Islam juga menerapkan sanksi yang tegas dan adil bagi pelaku bullying. Siapa pun yang telah balig dan mukalaf wajib bertanggung jawab penuh atas perbuatannya. Tidak ada perlindungan semu atas nama usia sebagaimana dalam sistem sekuler, yang justru melahirkan generasi yang lemah tanggung jawab dan miskin kesadaran hukum.
Berbeda dengan paradigma sekularisme yang terus memanjakan pelaku dengan dalih “anak-anak”, Islam justru membentuk kedewasaan sejak dini melalui pemahaman taklif hukum dan konsekuensi moral setiap perbuatan. Inilah yang menjadikan Islam unggul sebagai sistem pencegah kejahatan, termasuk bullying.
Oleh karena itu, menghentikan bullying secara tuntas tidak cukup dengan kampanye moral atau program seremonial, melainkan hanya dapat diwujudkan dengan perubahan paradigma pendidikan dan penerapan sistem Islam secara kafah karena Islam memiliki tiga lapisan perlindungan sekaligus: akidah, syariat, dan sistem sanksi yang tegas. Wallahu a‘lam.Bishawab.













