Oleh: Muhammad Yusuf
(Camat Sampaga, Calon Pejabat Pratama)
Visi “Mamuju Keren” — Kreatif, Edukatif, Ramah, Energik, dan Nyaman — telah menjadi semangat yang menggelora di bumi Manakarra. Namun, di era digital ini, sebuah pertanyaan kritis patut kita lontarkan: dapatkah kita benar-benar “keren” jika akses terhadap informasi dan literasi masih menjadi barang langka di banyak sudut kabupaten kita?
Fakta tak bisa dimanipulasi. Provinsi Sulawesi Barat, tempat kita berpijak, menempati peringkat terakhir dalam Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat tahun 2024. Survei PISA juga secara telak menunjukkan rendahnya kemampuan literasi siswa Indonesia, dan kita di wilayah Timur tak luput dari catatan tersebut. Data ini bukan sekadar angka statis, melainkan lampu merah yang menyoroti rapuhnya fondasi sumber daya manusia kita. Jika ini dibiarkan, visi “Mamuju Keren” hanya akan jadi impian di siang bolong.
Kebijakan Provinsi yang mewajibkan siswa SMA/SMK membaca 20 buku patut kita apresiasi sebagai langkah maju. Namun, di balik itu, terselip kegelisahan: mengapa budaya membaca baru “dipaksakan” di usia yang hampir dewasa?
Akar literasi harus ditanam sejak dini, di bangku SD dan SMP, di desa-desa seperti Kalumpang, di pesisir Bala-balakang, hingga ke pelosok Sampaga. Tanpa fondasi itu, upaya kita hanya akan jadi tempelan belaka.
Tulisan ini saya reduksi dari makalah yang berjudul. “Optimalisasi Dinas Perpustakaan menuju Mamuju Keren. Inovasi: “Satu Akses Literasi Digital Terpadu” (Penguatan Ekosistem Digital & Budaya Literasi melalui Wajib Baca Berjenjang SD–SMP). Makalah yang saya presentasikan di depan Tim seleksi sebagai sarat mengikuti ujian JPT Pratama yang di laksanakan oleh Pemkab Mamuju di LAN Makassar pekan lalu, sebagai sumbangsih pemikiran dan tawaran inovasi seorang calon Pejabat tinggi Pratama
Literasi di Mamuju: Antara Semangat dan Seremonial
Gerakan literasi di Mamuju sejatinya hidup. Berbagai festival, lomba, dan kegiatan kerap digelar. Namun, sering kali ia terjebak dalam euforia seremonial—ramai sesaat, lalu senyap. Kegiatan itu sporadis, sulit diukur dampaknya, dan belum menyentuh inti persoalan: membangun sistem
berkelanjutan. Akibatnya, membaca belum jadi kebiasaan, melainkan sekadar tugas insidental.
Dalam konteks ini, peran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Mamuju sering kali tereduksi hanya sebagai “penyimpan buku”. Padahal, di era transformasi digital, DPK seharusnya menjadi jantung dari ekosistem pengetahuan daerah. Persoalannya bukan semata anggaran, melainkan ketiadaan sistem terpadu yang sederhana, murah, dan mampu menjangkau semua lapisan Masyarakat
Revolusi Digital: Bukan Soal Mahal, Tapi Soal Kemauan
Banyak yang berpikir inovasi digital identik dengan biaya miliaran dan aplikasi rumit. Itu mitos. Inovasi sejati justru lahir dari penyederhanaan dan optimalisasi sumber daya yang ada. Dari kegelisahan inilah, terbit gagasan “Satu Akses Literasi Digital Terpadu” — sebuah model sederhana berbiaya rendah, namun berdampak besar bagi Mamuju. Gagasan ini merupakan adaptasi dari makalah penulis dalam ujian kompetensi, yang dirasa relevan untuk diwujudkan di tanah kelahiran.
Prinsipnya: integrasi, bukan kreasi dari nol. Kita manfaatkan platform yang sudah ada untuk membangun ekosistem literasi inklusif.
Pilar Revolusi: Satu Pintu untuk Semua
Portal “MamujuAkses.dpk”: Optimalkan website atau buat subdomain khusus DPK sebagai pintu gerbang utama. Di sini, masyarakat—dari pelajar di Tadui hingga nelayan di Karampuang—dapat mengakses e-book, arsip digital sejarah Mamuju, materi budaya Mandar, dan panduan literasi digital dasar. Tidak perlu aplikasi baru, cukup akses browser dari gawai sederhana.
Program Wajib Baca Berjenjang: Target yang realistis dan membentuk kebiasaan. Siswa SD cukup baca 1 buku per 2 minggu, siswa SMP 2 buku per bulan. Target ini ringan, tidak membebani, namun konsisten membangun rutinitas.
Pelaporan Digital via QR Code: Inilah kunci kesederhanaan. Setelah membaca, siswa/guru cukup scan QR Code yang ditempel di majalah dinding sekolah atau pusat kegiatan desa, lalu mengisi formulir digital singkat. Teknologi ini murah, mudah, dan dapat diakses bahkan di daerah dengan sinyal terbatas. Sekolah di pegunungan atau kepulauan tak lagi terkendala laporan fisik.
Data: Kompas Bagi Kebijakan yang Nyata
Kelemahan fatal program selama ini adalah absennya data akurat. Tanpa data, kita buta arah. Sistem pelaporan sederhana ini akan menghasilkan dashboard literasi Kabupaten Mamuju. Dinas Perpustakaan Kearsipan DKP dan Pemerintah daerah dapat memantau real-time: sekolah mana yang paling aktif, kecamatan mana yang tertinggal, jenis buku apa yang digemari. Inilah wujud nyata kebijakan berbasis data (data-driven policy). Visi “Edukatif” dan “Kreatif” tak lagi retorika, tetapi terukur dan terarah.
DPK Keluar Kandang: Dari Kantor Hingga ke Beranda Warga
Revolusi ini menuntut DPK bertransformasi. Melalui program “Desa Melek Literasi Digital”, petugas DPK harus turun ke desa-desa. Tidak hanya membagikan buku fisik, tetapi juga melatih perangkat desa dan karang taruna untuk mengakses portal, mencari informasi pertanian, kesehatan, atau legalitas kependudukan secara digital. Pengetahuan harus didemokratisasi, hadir hingga ke beranda rumah warga di Simboro, Tapalang, atau Bonehau.
Di sinilah makna “Ramah” dan “Nyaman” terasa: ketika Pemerintah hadir dengan membuka akses ilmu, bukan dengan birokrasi yang berbelit.
Penutup: Literasi Digital, Jalan Menuju “Mamuju Keren” yang Hakiki
Optimalisasi peran DPK Kabupaten Mamuju melalui revolusi digital kecil ini bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan sejarah. “Satu Akses Literasi Digital Terpadu” adalah bukti bahwa dengan komitmen, kolaborasi antar sektor (Diskominfo, Disdikbud, Kemenag), dan kemauan politik yang kuat, kita bisa membangun peradaban literasi tanpa membebani APBD.
Jika kita gagal membangun sistem ini hari juga, maka “Mamuju Keren” akan tetap menjadi slogan di baliho yang pudar, bukan warisan intelektual yang kita tinggalkan untuk anak-cucu di tanah Manakarra. Mari jadikan literasi digital sebagai nafas baru pembangunan kita. Karena Mamuju yang benar-benar Keren, adalah Mamuju yang membuka pintu ilmu selebar-lebarnya untuk semua warga yang mendiami bumi Manakarra menuju. “Allo Campalogana To Mamuju Masannang Masagena













